Mengawali Gerakan Mandiri Petani dari Jadi Pengecer Pupuk

Foto: Gatot Aribowo

Lukito, ketua organisasi massa petani, Lidah Tani Kabupaten Blora.

Senin, 24 September 2018 15:18 WIB

LUKITO duduk di ujung saat diberi kesempatan untuk mengutarakan maksud kedatangannya ke DPRD Kabupaten Blora. Di samping kanan menghadap ke arahnya, duduk Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blora, Abdullah Aminuddin. Duduk berderet di depan Lukito masing-masing: Jaswandi—pejabat di Dinas Perdagangan Kabupaten Blora, Agus—distributor pupuk bersubsidi di Kabupaten Blora yang bersebelahan dengan salah satu agennya di wilayah Kecamatan Menden, juga petugas penyuluh lapangan yang bertugas di wilayah Kecamatan Menden.

Ada lebih 20-an orang yang duduk melingkar di meja persegi 4 di salah satu ruangan rapat untuk rembug soal keinginan Lukito dan kawan-kawannya, yang difasilitasi DPRD Kabupaten Blora. Lukito merupakan Ketua Lidah Tani Kabupaten Blora, organisasi massa petani yang lebih banyak menggalang petani di wilayah selatan Kabupaten Blora. Jumlah massa anggotanya telah mencapai lebih 1.000 petani, tersebar di 4 kecamatan: Randublatung, Menden, Jati, dan Kunduran.

"Kami ada masalah dengan belum disetujuinya organisasi kami di Kecamatan Menden yang ingin mengecerkan pupuk sendiri," demikian Lukito menjawab pertanyaan dari wartawan usai rembug tersebut.

Ada lebih 100 petani yang digalang Lukito di Kecamatan Menden melalui organisasi massa petani, Lidah Tani. Ratusan petani ini sudah mengumpulkan iuran rata untuk permodalan pengadaan pupuk dan pengadaan peralatan penunjang pendistribusian. Hitung-hitungan telah dilakukan sebelumnya, berapa "modal" yang dibutuhkan. Ijin-ijin disiapkan. Jika belasan tahun lalu perijinan menggunakan nama salah seorang dari mereka, kini mereka mengatas-namakan kelompok Usaha Dagang (UD) sebagai syarat bentuk organisasi usaha yang akan mengecerkan pupuk.

"Lebih sepuluh tahun lalu kami di Kecamatan Randublatung menggunakan nama individu untuk mengurus ijin-ijinnya. Tentu kemudian tidak dalam penguasaan satu orang. Salah satu sebabnya, dalam pengoperasian usahanya melibatkan organisasi. Dan mereka yang mengoperasikan pendistribusian bekerja secara volunter. Sebab mereka yang dipasrahi bertugas untuk mengelola distribusi pupuk adalah petani juga," sebutnya.

Menjadi pengecer untuk melayani kebutuhan anggotanya akan pupuk telah dilakoni Lidah Tani sejak 2008. Di tahun-tahun sebelumnya upaya telah dilakukan, dengan salah satunya menggunakan nama individu untuk mengurus perijinan. Setelah mendapatkan restu untuk mengecerkan pupuk sendiri, di 2008 dibuatlah bentuk usaha dagang.

"Intinya kami tidak menjadikan keuntungan sebagai tujuan yang hendak didapat, namun lebih untuk tidak dipermainkan kelompok pemodal, selain melayani anggota sendiri," kata Lukito.

Bukan hal mudah untuk menyakinkan para petani guna iuran untuk permodalan pengadaan pupuk. Dalam perkembangannya, setelah mendapati harga pupuk sering dipermainkan pengecer di lapangan, akhirnya petani di organisasi massa Lidah Tani mau menyisihkan uang untuk modal. Jumlah modal ditetapkan sama rata setelah didapat hitungan berapa kebutuhan uang yang harus disiapkan untuk jadi pengecer pupuk sendiri. Pola inilah yang hendak diterapkan untuk anggota mereka yang ada di Kecamatan Menden, saat ini.

"Tapi yang kami dapat selama 6 bulan ini adalah agen dan distributor yang mencla-mencle, yang ada saja alasan mereka menolak kawan-kawan petani di Kecamatan Menden," katanya.

Agus, distibutor utama pupuk bersubsidi di Kabupaten Blora, dalam rembug DPRD Kabupaten Blora menyatakan siap untuk mengakomodir keinginan petani di wilayah Kecamatan Menden yang hendak mengecerkan sendiri jatah pupuk untuk mereka. Namun, kata Agus, tidak ada keuntungan besar yang didapat dari pengecer pupuk. "Padahal ada biaya operasional, termasuk nantinya membuat laporan bulanan untuk pendistribusian pupuk yang dikerjakan," katanya.

Atas biaya-biaya operasional yang akan terjadi nantinya, Lukito menyatakan bahwa anggotanya siap menanggung kerugian atas operasional dari jadi pengecer.

"Sekali lagi, keuntungan bukanlah target kami. Tapi lebih untuk melayani anggota dan menggalang solidaritas sosial antar petani agar tidak dipermainkan kelompok pemodal," tandas Lukito.

Solidaritas sosial ini, kata Lukito, merupakan modal berharga untuk kelak cita-cita organisasi yang tidak sekedar mengadvokasi petani yang jadi anggotanya tapi juga cita-cita ekonomi dengan membentuk koperasi usaha tani yang dimiliki oleh para petani. (*)